Baru-baru ini kita dikejutkan dengan berita meninggalnya Mita Diran, seorang copywriter di perusahaan periklanan Y&R. Tragis pastinya, pekerjaan yang kita butuhkan untuk bertahan hidup malah jadi pembunuh. Nggak ada seorang karyawanpun yang pengen mengalami nasib sama, memang sebesar apa gajinya sampai2 harus setor nyawa?

Buat aku sendiri, kerja dibidang konstruksi yang ngejar proyek pemerintah cukup melelahkan, meskipun Deadline-nya nggak se DEAD bidang periklanan. But working overtime is a common thing to do. Yang jadi masalah adalah uang lemburku nggak jelas keberadaan serta pembayarannya. Sebenarnya aku bukan satu-satunya karyawan yang mengalami hal ini, aku yakin diluar sana banyak karyawan lain mengalami hal yang sama. Kita seringkali memberikan gratifikasi berupa lembur pada perusahaan, padahal jelas2 gratifikasi itu dilarang. Ketentuan pembayaran uang lembur pasti sudah diatur, meskipun aku sendiri tidak tahu peraturannya.

Pemimpin perusahaan seolah-olah menganggap bahwa lembur adalah termasuk dalam porsi kerja kita, dan uangnya masuk dalam gaji lunsum per bulan. Kenyataan kejam mengingat keuntungan perusahaan begitu besar tapi membayar uang lembur karyawan saja ogah. Bukan cuma itu, sebagai karyawan yang kerjanya hilir mudik kesana kemari dan telpon sana sini, otomatis pengeluaran di bensin dan di pulsa membengkak, tapi sekali lagi pengeluaran untuk itu dianggap sudah masuk dalam gaji per bulan. Itu artinya gaji yang kita terima masih harus dipotong untuk kepentingan perusahaan. Saat sudah mentok dan ingin resign malah terhambat oleh ijazah yang ditahan perusahaan, apa nggak stres itu yang jadi karyawan.

Sebenarnya apa yang ada dibenak pimpinan perusahaan sampai tega memperlakukan karyawan seperti itu? Apa mereka dari lahir sudah kaya sehingga nggak tahu rasanya berada dibawah. Padahal keinginan karyawan nggak banyak, cuma ingin perhitungan yang adil, sama-sama menguntungkan bos dan karyawannya. Kita bekerja bukan sekedar untuk memperkaya bos.

Meskipun demikian aku selalu ingat kata-kata Pak Mario Teguh "Jangan menggigit tangan yang memberimu makan, jangan membenci pekerjaan yang menjadi sumber rezekimu, perbaiki sikapmu, atau pergilah"

Tapi tak adil jika pesan itu cuma untuk karyawan, bagi perusahaan seharusnya "Jangan mengambil bagian dari orang yang kau beri makan, padahal kenyataannya engkaulah yang mereka beri makan"