1. Tentukan tujuan stalking, kemudian fokuslah untuk mencapai tujuan tersebut
Seperti juga hidup, cyberstalking harus ada tujuannya dan kita harus fokus terhadap tujuan tersebut. Nggak usah bolak-balik memelototi fotonya yang terlihat, ‘Awww cute banget!’ dan membuat kita sampai termimpi-mimpi. Ingat, kita punya misi di sini, entah itu mengetahui apakah dia sudah punya pasangan atau belum, bagaimana latar belakang hidupnya, melihat lingkaran pertemanannya, dan lain-lain. Jadi sangat penting untuk menetapkan tujuan di awal, supaya kita nggak terlanjur terseret kehilangan fokus, seperti misalnya justru malah stalking semua perempuan yang meng-klik ‘like’ di bawah foto-fotonya (kita, para perempuan, biasanya sering kayak gini nih, hehe).

2.  Jangan klik apa pun kecuali tombol ‘next’ dan scroll ke bawah 
Iya, saya tahu pasti gatal banget ingin ikut komentar kayak, “Waw, keren banget. Ini di mana?”. Kita juga harus sanggup untuk menahan diri supaya nggak mengklik tombol hati, ‘like’, atau retweet. Apalagi kalau ternyata kita me-like foto atau tweet empat tahun yang lalu. Ketahuan banget kita lagi stalking. Ingat peraturan dasar: jangan tinggalkan jejak. Kalau nggak yakin bahwa kita bisa menahan diri, mungkin kegiatan cyberstalking bisa dilakukan bersama sahabat (supaya ada yang mengingatkan, gitu!). Selanjutnya, keep calm and scroll the timeline.

3.  Jangan makan dan minum sewaktu cyberstalking
Selain akan membuat berat badan kita bertambah (singkirkan jauh-jauh keripik kentang, cokelat, dan minuman bersoda), melakukan cyberstalking sambil makan dan minum bisa menjadi bencana. Misalnya makanan kita jatuh nggak sengaja di atas keyboard, lalu kita berusaha membersihkannya dan nggak sengaja meng-klik atau memencet sesuatu. Ucapkan selamat tinggal pada tidak ada jejak. Pokoknya, stay clean, ladies.

4. Poker face
Mungkin ini yang paling susah dari semuanya: bersikap bahwa kita pura-pura nggak tahu apa yang pernah dan sedang terjadi dalam hidupnya. Bersikaplah santai seolah-olah nggak terjadi apa-apa. Jangan sampai kita kelepasan bilang padanya saat bertemu, “Waktu kuliah ternyata kamu kurus banget, ya!” yang membuat dia bertanya kenapa kita bisa tahu. Padahal alasan kenapa kita tahu adalah karena dia di-tag dalam sebuah foto oleh temannya dan dia sendiri bahkan belum tentu sadar bahwa ada foto tersebut (apalagi kalau ternyata dia nggak terlalu hobi meng-update foto-fotonya di internet).

Nggak ada yang salah dengan sedikit berkomentar di status Facebook atau me-RT tweet yang memang baru saja dia posting, selama itu nggak berlebihan. Dan satu yang perlu diingat, jangan sampai kegiatan ini menjadikan kita sangat terobsesi pada si dia dan terus menerus memantau semua media sosialnya demi mendapatkan sedikit update. Karena apa pun yang berlebihan itu pasti nggak sehat.

Terakhir, saya hanya bisa bilang: semoga sukses, ya, cyberstalkingnya!