Sejak lama aku ingin menjadi penulis, setiap kali sibuk dalam pekerjaan ada satu janji yang kuucap, nanti saat waktu senggang aku akan menulis lagi. Tapi selalu batal, karena waktu senggang itu tak kunjung muncul, atau waktu senggang itu kuhabiskan dengan pria calon pendamping hidupku :)

Ngomong-ngomong mengenai laki-laki yang beruntung akan memilikiku itu (Oh God), aku jadi teringat keinginanku untuk operasi plastik dulu. Yah karena alasan apalagi selain aku merasa diriku gadis yang tak layak dicintai. Tapi ternyata Tuhan akhirnya menjawab doaku, Dia mengirimkan seseorang yang mencintaiku dan kucintai.  Akhirnya aku lulus dari akademi jomblo.

Yah, aku dulu memang jomblo akut, nyaris menjadi jomblo hampir selama 25 tahun kalo saja berpacaran dengan teman dari temanku yang cuma bertahan 3 bulan itu tidak dihitung. Siapapun yang bilang jomblo itu hepi pasti sedang menghibur diri sendiri. Dari sisi manapun, jomblo itu nggak enak rasanya. Berbagai macam pantun jomblo dan puisi jomblo diciptakan untuk menghina dina eksistensi para jombloer. Sakit hati ini mas mbak. Seolah-olah jadi seorang jomblo adalah nista, memalukan, dan masih kalah keren ketimbang truk gandengan.

Aku mengerti betul perasaan seorang jomblo saat malam minggu, dan aku pun pernah jadi jomblowati yang meminta hujan (ah, masa-masa galau itu....). Belum lagi tuntutan keluarga agar aku segera mendapat pasangan, bukannya menuntut dengan teriak "Jangan pulang kalo belum dapat pacar!", tapi tuntutan sejenis "Bulan depan si Zaki mau nikah mbak, padahal kaya baru kemarin dia lulus SMA. Si mbak datang sama calonnya kan?" (yang ngomong lupa kalo aku udah lulus kuliah 3 tahun dan masih jomblo)

Tekanan yang berat dan nyata saat menjadi jomblo kualami hari itu, suatu sore sepulang kerja ibuku bilang ada tamu nunggu diluar. Dan saat keluar kulihat sosok gadis cantik berwajah oriental, rupanya Ribka temanku sejak SD. Setelah proses basa basi dan cipika cipiki, dengan sumringah dia menyodorkan sesuatu "Lez, mau nganterin ini, jangan lupa datang ya..", meskipun kepalaku serasa dijedokin ke tembok, tetap saja aku harus tersenyum dan berkata "Wah, selamat ya, calonnya orang mana nih?". Setelah proses cerita latar belakang, proses ketemuan dll, temanku pun pulang, ninggalin aku sendiri yang sedang meratapi nasib. Kubolak-balik undangan hard cover berpita itu, kumantapkan hati, aku nggak boleh datang sendirian ke resepsi.

Segera setelah itu aku menghubungi seorang temanku, laki-laki yang sama jomblonya denganku. Dengan akad persahabatan yang tak tergoyahkan diantara kita, dia setuju menemaniku ke resepsi. Tapi apa daya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Di hari resepsi itu, hujan turun deras sekali, aku dengan gamang membolak-balik kado yang kubungkus rapi, tak berapa lama masuk sms berbunyi "Lez, maaf gak bisa nemenin, mantelku di pinjam mas, jadi gak bisa keluar". Malam itu aku datang ke resepsi pernikahan temanku, naik motor sendirian, hujan-hujan. Rasanya ada perasaan malu yang nggak sanggup aku tutup-tutupi, apalagi saat ibunya bertanya "Loh, masa datang sendirian??". Pulang dari sana, aku berganti baju tidur, meringkuk dan menangis di balik selimut "Duh Gusti, akhiri kejombloanku...."

Tapi toh Tuhan tidak serta merta menjatuhkan seorang pria sempurna dari plafon kamarku, masih ada proses panjang dan melelahkan sebelum itu. Misalnya saja proses dimana aku dikenalkan dengan banyak pria. Pada dasarnya aku ini introvert dan tidak suka berkenalan dengan orang asing, apalagi dalam konteks pencomblangan seperti yang kualami. Tiap kali aku hendak menolak, temanku dengan tegas berkata "Gimana mau dapat pacar kalo nggak mau berusaha?", well, okelah memang jodoh itu ditangan Tuhan, tapi genggaman Tuhan tak akan dibuka kalau aku tak berusaha, kucoba berpikir demikian.

Via sms dan social media aku dikenalkan dengan seorang pria yang juga sedang mencari pasangan. Namun apalah daya, hati ini tak mau dengan seorang yang asing, jadilah aku membalas sapaannya dengan setengah hati, demi sopan santun saja, tapi juga sedikit harapan siapa tahu cocok. Setelah dirasa cukup berkenalan via dunia maya, Mas X yang dikenalkan denganku meminta ijin untuk bertamu ke rumah, kuijinkan saja, toh kenalan tapi nggak pernah ketemu juga tidak akan ada juntrungannya.

Malam minggu itu, saat flu yang aku alami sedang parah-parahnya, seorang pria bertandang ke rumahku. Berpakaian hitam, cukup rapi, umurnya kira-kira 5 tahun diatasku. Kami mengobrol cukup lama, aku merasa jadi tuan rumah yang cukup ramah, over all pertemuan malam itu bisa dibilang cukup lah. Namun kejadian selanjutnya juga cukup mengguncang jiwaku, sejak pertemuan malam itu Mas X tidak lagi menghubungiku, sama sekali. Saat itulah aku merasa diriku jelek sekali, sebab Mas X yang kunilai tidak kaya, tidak tampan, tidak juga lucu, tidak merasa diriku layak untuk dirinya. Mak jleb sekali rasanya.... Saat itulah aku menyadari, pria yang tidak sempurna pun mengharap wanita sempurna. Aku kapok disuruh kenalan-kenalan lagi, aku merasa kecantikanku ini sudah mentok notok, di make-up model apapun lagi jadinya ya begini ini...

Begitulah sedikit kepedihan hati yang dirasakan seorang jomblo, itu semua diluar segala macam ejekan yang beredar untuk kaum jomblowan dan jomblowati. Sebenarnya apa salahnya sih jadi jomblo, mbok ya yang lebih pengertian dikit, nggak usah diketawain atau diejek. Kalo si Jomblo boleh memilih, tentunya milih untuk dilahirkan lebih ganteng, lebih cantik, lebih kaya, dan lebih-lebih yang lain. Tapi manusia kan nggak bisa milih rupanya seperti dia nggak bisa milih mau lahir dari rahim siapa. Seharusnya ya orang-orang yang sudah berpasangan itu bersikap arif dan menyingkirkan perilaku menghina. Kalu jomblo adalah pacaran yang tertunda, yang lagi berpacaran sebaiknya berhati-hati saja, dijaga baik-baik, jangan sampai diambil sama jomblo yang biasanya sampean hina...