Well guys, jika kamu hobi menulis, kamu harus menuliskannya. Bahkan jika kamu tidak suka menulis, kamu harus tetap menuliskannya. Menulis adalah cara terjitu untuk membuat kita tetap hidup bahkan di saat kita sudah mati. Jika kamu tak berbakat, tak punya kelebihan apapun, tak punya foto masa muda yang cukup ganteng atau cantik, tak punya prestasi sebagai atlet atau otak encer sebagai professor. Maka satu-satunya cara bagimu untuk meninggalkan jejak adalah dengan menulis, bahkan jika kamu sangat bodoh dalam menulis, kamu harus tetap menulis. Yaaah... kecuali kalau kamu ingin hilang seperti asap saat mati nanti, itu persoalan lain (pasti kamu sangat depresi dalam hidup)

Ngomong-ngomong, aku ijin ngupload tulisan lama ya, (idiiih... orang nulis di blog sendiri pake ijin2 segala). Aslinya ini bagian dari novel yang aku mulai (entah chapter berapa), dan sampai sekarang mandeg gak diterusin. Ceritanya seorang cewe yang kedatangan seseorang dari masa lalu, seorang pemuda dari tahun 80-an. Setting tahun 2007, si cowo dari tahun 1987. Entah bagaimana cowo bernama Ricky itu bisa muncul di kamar si cewe dengan melampai batas ruang dan waktu. Mereka pun saling mengenal dan bersahabat.

Mimpi


“Cerita tentang kamu. Please” Pintanya memecah keheningan.
 

“Aku? Memang apa menariknya?”
 

“Selama ini aku jadi orang egois. Semuanya tentang aku, aku dan aku. Tiba-tiba aku sadar. Bulan bukan Cuma mengorbit aku seorang. Nah, sekarang aku mau mengorbitmu. Jadilah pusat kehidupan”

Sejujurnya ini tawaran menggiurkan. Tak ada yang mengerti bahwa kebutuhan seseorang untuk didengarkan begitu besar. Termasuk aku, selama ini satu-satunya yang tahu keinginanku, cita-citaku, ide-ide anehku baru diaryku seorang, si Bejo.

“Apa yang perlu kamu tahu tentang aku?”

“Apapun.”

“Oke. Bukan salahku kalau aku tak bisa berhenti. Aku punya banyak sekali keinginan. Aku ingin jadi penari, aku ingin jadi pelukis, aku ingin jadi penulis, bahkan aku ingin bisa main biola.”

“Penari??” Sahutnya dengan alis bertaut. Seakan ia mendengar paus ingin menari.

“Huh, selamat anda orang keseratus yang heran. Ini yang membuatku menyimpan semua untuk diri sendiri.”

“Ups. Maaf. Bukan itu. Kukira kamu  gadis pendiam tak banyak bergerak. Seingatku satu-satunya saat kamu menjadi lincah adalah saat terlambat ke kampus.”

“Haha, you’re right” Nyengir.

“Lalu keputusan terhadap mimpimu?”

“Mimpi menjadi penari memang sudah kuhapus. Tapi keinginanku yang lain masih tetap ada. Suatu saat nanti, kalau aku sudah bekerja dan punya uang, aku akan banyak belajar. Aku akan belajar melukis, aku akan belajar main biola. Kamu tahu, aku ini sangat pintar dalam belajar. Lihat saja nanti. Lalu mimpimu sendiri apa?”

“Aku? Ehm, aku ingin lulus kuliah.”

“Itu bukan impian. Itu kewajibanmu.”

“Bagi orang lain, lulus kuliah memang bukan perkara sulit. Tapi ada orang-orang yang harus berjuang hingga melawan takdir untuk menggapainya.”

“Memangnya kamu kurang mampu? Apa kamu harus bekerja keras? Seperti Andrea Hirata? Oh iya, kamu kenal Andrea Hirata tidak? Dia pasti sudah cukup besar di jamanmu.”

“Orang tuaku kaya. Andrea Hirata siapa? Cantik dan seksi?”

Sigh. Cowo dari jaman apapun sama, hobi sama yang bahenol.

“Cantik gundulmu. Dia itu laki-laki, orang Belitong. Ngomong-ngomong, kalau orangtuamu kaya, kenapa kamu harus kesulitan lulus kuliah? Ah iya, pasti kamu mahasiswa malas, tukang tidur, tukang bolos, suka baca majalah porno dan nyontek tugas dari mahasisiwi yang naksir kamu.”

Ricky cuma nyengir yang kuartikan sebagai iya.

“Tapi mahasiswi yang naksir kamu pasti tolol sekali ya. Mana ada cewe naksir cowo yang pake kemeja kedombrangan warna ungu terong. Haha.” Kataku saat menyadari kemeja besar keluaran tahun 80-an milik Rick.

“Puas-puaslah tertawa. Kalau kamu bisa masuk jamanku, kamu pasti jadi cewe dengan dandanan paling kacau. Celana kekecilan tapi melorot, kaus milik balita, rambut tipis mirip sapu lidi. Huh.”

Kuputar bola mata. Kalah.

“Eh, Indra itu siapa?” Tukasnya tiba-tiba.

Tanpa perlu berkata-kata, ekspresiku mengatakan semuanya. Pipi merah, hidung merah. Tiap kali nama Indra disebut detak jantungku melambat, tanganku jadi dingin. Ah, tapi bagaimana mungkin Rick tahu tentang Indra, aku tidak pernah bercerita padanya. Dia tidak… dia tidak mungkin…

“Maaf, aku baca buku harianmu.”

“Gyaaaah….!!!” Kurang ajar, apa dia tidak tahu diary itu ultra privacy. Lebih privacy dari koleksi celana dalam di lemariku. (yang goblog sapa sih?)

“Waktu itu aku dating kesini. Kamu masih di kampus. Aku bosan. Iseng-iseng saja kubuka buku harianmu. Niatnya cuma baca prolognya saja, eh ternyata tidak bisa berhenti. Emmm… hari ini Indra menyapaku, hari ini Indra tidak masuk, hari ini Indra… bla bla bla. Setelah kuhitung, ada 1657 nama Indra. Whoa…!”

Memang diary ada prolognya? Sinting.

“Menyerahlah. Ceritakan tentang dia padaku. Sejauh ini aku tahu dia pusat duniamu, pangeran tampanmu, dewa Yunanimu. Dan segala metafora aneh lainnya”

Sigh. Jika ia memaksa.

“Aku memujanya setengah mati. Tapi dia tak melirikku sedikitpun. Aku adalah gadis tolol yang siap sedia memberi contekan saat ulangan, mengerjakan tugasnya saat dia tak sempat, membantunya untuk apapun yang dia

perlukan. Aku memang bodoh.”

“Apakah dia jahat padamu?”

Aku membeliakkan mata.

“No. Dia sangat baik, humble, dan lucu.”

“Kamu masih menyukainya?”

“Tidak. Aku berusaha tidak menyukainya. Dia tak punya waktu atau sisa tempat di hatinya untukku.”

“Terimalah kenyataan. Kamu masih menginginkannya. Oh. Gadis malang… aku pergi dulu” Bisiknya seraya mengecup ubun-ubunku. Perlahan tubuh Rick lenyap. Dia kembali ke waktu dan tempat di mana seharusnya ia berada. Sisa kehangatannya masih tertinggal di sekelilingku.