Pierre Tendean
Aku bisa sangat obsesif saat menyukai sesuatu. Contohnya yang satu ini. Dari jaman SD aku penasaran tentang Pierre Tendean, salah satu orang yang disebut pahlawan revolusi itu. Bukannya apa-apa, dia kan yang paling muda dan kelihatan paling ganteng di antara lainnya. (bener kan? kan? kan?)
Pierre Tendean saat SMA

Jadi seharian ini aku sibuk searching by Google nyari informasi tentang Pierre Tendean, berikut beberapa data yang aku dapet dari  Google:
  • Pierre Tendean adalah seorang blasteran Minahasa (DR. A.L Tendean ) dan Prancis (Cornel ME), that's why he's so adorable. Kalo ada cowo seganteng dia di jaman sekarang, mungkin lebih milih jadi artis aja.
  • Berikut ini adalah foto dari Pierre Tendean bersama dua saudarinya, dari situ kita bisa lihat ada bakat tampan dan cantik pada keluarga mereka

  • Pierre adalah ajudan dari AH Nasution. Pada masa tersebut ada ungkapan dari mahasiswi yang mendapat ceramah dari Pak Nas (AH Nasution), "Telinga kami untuk Pak Nas, tapi mata kami untuk ajudannya (Pierre Tendean)". Sepopuler itulah Pierre Tendean di kalangan wanita. Yeah, he's seriously charming. See?

  • Jika ada lomba olah raga antar kampus, Pierre sering masuk tim basket. Ini membuat dia dikenal oleh banyak mahasiswi yang menonton.
  • Ingin tahu bagaimana tulisan tangan Pierre Tendean? Berikut adalah kartu pos yang beliau kirimkan pada keluarganya.

Papi dan Mami tertjinta
Datang di Tjimahi dengan baik
Perjalanan ada baik
Tidak boleh keluar asrama dan makanan jelek
Mungkin tinggal selama kurang lebih 20 hari
Saja minta .... surat ini djangan dibalas , telah dilarang terima surat
Mulai hari ini sudah diadakan kelas..
Kabar lebih lanjut akan datang dengan surat lain
Kurang lebih seperti itu isi suratnya, saya sendiri berusaha keras membacanya :)
  • Saat bertugas di Medan, seorang wanita bernama Rukmini Chaimin berhasil membuat Pierre jatuh cinta.Mereka berencana menikah di tahun 1965 dan pernikahan yang seharusnya digelar bulan November itu batal karena kematian Pierre sebulan sebelumnya. Kabarnya hubungan antara Pierre dan Rukmini ditentang oleh keluarganya. Saya tidak tahu kenapa, mungkin karena adanya perbedaan agama. Ayah Rukmini adalah seorang terpandang di Medan. Setelah kematian Pierre, Rukmini sangat terpukul (tentu saja, it's unbearable thing). Lima tahun kemudian ia menikah dengan orang lain. Bagaimanapun juga Rukmini Chaimin adalah seorang wanita yang istimewa, ia dicintai laki-laki hebat yang dipuja-puja banyak wanita.
Rukmini Chaimin
  • Sebenarnya tanggal 30 September Pierre sudah menyerahkan tugasnya kepada salah seorang rekannya, karena esok harinya dia akan ke Semarang merayakan ulang tahun ibunya yang jatuh tanggal 1 Oktober. Namun Pierre Tendean keburu diculik lantaran dikira sebagai AH Nasution, dan ia tetap dibunuh meskipun telah diketahui bahwa ia bukanlah sang Jendral.
  • Kapten Pierre sering memberikan hadiah coklat kepada Ade Irma Suryani.
  • Saat menjadi seorang taruna Kapten Pierre selalu menjadi pusat perhatian gadis-gadis remaja, dan ia mendapat julukan "Robert Wagner dari Panorama" oleh gadis-gadis remaja Bandung. Tapi menurutku Pierre lebih tampan :). Ingin tahu seperti apa Robert Wagner, berikut fotonya:

  • Kapten Pierre bersekolah di SMP Negeri 1 Semarang yang dulu berdiri di Jl. Pemuda 134 Semarang, namun sekarang digunakan sebagai kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.
  • Cita-cita Kapten Pierre untuk menjadi seorang Perwira Militer tumbuh saat ia berada di tahun terakhirnya di SMA B Semarang.
  • Untuk mengurangi beban keluarganya, Pierre yang masih kecil giat menanami tanah kosong di sekitar rumahnya dengan singkong, ubi, pepaya dan sayur-sayuran.
  • Pierre merupakan Ajudan Jendral A.H Nasution yang termuda, baik usia maupun dinasnya sebagai seorang militer.
Muda, tampan, dan pahlawan, what a wonderful man?. Sedikit hal tentang Pierre, kalian tahu lebih banyak? share disini ya... Do you know guys, kisah Pierre Tendean membuatku kurang respek pada pemuda tampan yang sukanya tebar pesona. I don't watch Sinetron. Siapa yang mau melihat sampah itu sekarang ini, oh come on?