Stendhal mengatakan "Ada hal yang tidak akan pernah kita dapatkan tak peduli selama apapun kita menunggu". Kata-kata itu benar-benar membekas buat aku.

Enam atau tujuh bulan yang lalu, saat baru selesai mengurus yudisium, aku dan teman-temanku mulai mencari pekerjaan. Sejujurnya aku tak terlalu bersemangat waktu itu, daripada mencari kerja aku lebih ingin menikmati masa liburan, nonton Spongebob di pagi hari, nonton Infotainment jam 10 pagi sambil mencaci maki artis yang lagi digosipin, tidur siang jam 12, nonton serial Kore jam 4 sore, dan mengkritik Ibuku yang nonton sinetron di malam hari.

Tapi untunglah aku punya dua sahabat yang lebih bersemangat daripada aku, alih-alih nonton spongebob di pagi hari, kita malah ikutan jobfair. Aku adalah cewe yang nggak punya sepatu bagus, satu-satunya sepatu yang kumiliki adalah sepatu flat plastik berwarna coklat seharga 30 ribu. Aku sempat bingung sepatu macam apa yang harus kukenakan untuk hunting pekerjaan, sampai kulihat di rak sepatu ada sepasang vantovel milik kakak perempuanku tiga tahun lalu, vantovel murahan yang ia beli di pasar, mungkin dia pakai untuk melamar pekerjaan saja. kuputuskan memakai sepatu tersebut.


Dengan dua sahabatku, aku menuju arena jobfair. Cukup dengan modal 10 ribu kita masing2 mendapat 1 eksemplar majalah dan bisa memasukkan lamaran di perusahaan-perusahaan ternama. ternyata mencari kerja begitu sulit, dari sekian banyak perusahaan besar, syarat kami hanya mampu lolos di beberapa perusahaan saja.


Dari beberapa lamaran yang kita masukkan, hanya satu perusahaan yang mengundang kita untuk test. Diadakan siang itu juga. Sekali lagi aku harus mengakui, mencari pekerjaan itu tidak mudah. Awalnya aku tak terlalu memperhatikan perusahaan ini, sebuah Pabrik Beton. Ruangan test penuh dengan job seeker, puluhan orang menempati kursinya masing-masing, termasuk aku dan dua sahabatku.

Sebuah buku tipis berwarna biru dibagikan kepada peserta test, dari sampulnya bisa kulihat test tersebut memiliki banyak item gambar didalamnya. Aku yang tak pernah mengikuti test sebelumnya akhirnya tahu bahwa test itulah yang disebut test logika. Peserta test berjumlah 150-an orang, lolos gak ya...?


Jujur saja, aku ini gadis yang lumayan sombong dan terlalu yakin atas kemampuannya sendiri. Dan sebagaimana yang kalian tahu aku ini cerdas, seksi dan elegan, pasti lolos lah.. :P. Kedua temanku belum lolos untuk kali ini. Dengan keberuntunganku aku mengikuti test selanjutnya. Full time psikotest, kurang lebih 6 jam test dengan segala macam atributnya. Sejak awal pihak perusahaan sudah mewanti2 hanya akan ada sedikit sekali, 3-4 orang saja yang lolos dari 70-an peserta test. Ciut nyaliku. Memang aku ini siapa, meskipun waktu TK lumayan pinter (wkwkwk), tapi setelah itu gak ada apapun yang bisa dibanggakan.

Pertama kali ngelamar kerja, pertama kali ikut seleksi, perusahaan yang besar pula. Mana orang-orang di sekitar pinter banget (gila aja, test pauli minta nambah segala!! aku selembar pun gak habis, kenyang tau!!). Gak ngarep lagi deh... lupakan lupakan. Pihak perusahaan menginformasikan orang-orang yang lolos akan dihubungi dan pengumumannya bisa di lihat di web.

Hari2 menunggu wisuda & ijazah kuisi dengan jadi pegawai admin di kampus, lumayan duitnya buat beliin sabun emak. Sesekali aku terpikir soal lolos tidaknya aku mengikuti test itu. (halah sesekali??, ngibul banget)

Coba tebak, si cerdas yang seksi dan elegan ini lolos gak??
hahaha, tepat sekali, aku lolos kawan2. Namun dari sinilah keputus asaan di mulai. Mengetahui aku lolos dari sekian banyak orang membuatku over valued pada diri sendiri. (aku tak pernah ikut test/ rekruitmen apapun sebelumnya, jd masih culun2nya), merasa hebat lah diriku.

Karena perusahaan itu cukup besar, penempatannya pun di ibu kota. Aku berharap banyak kali ini, aku teramat sangat berharap untuk lolos. Interview pun dilaksanakan. Aku yang lugu ini justru menyepelekannya, mengira test sebelumnya adalah inti dari rekruitment. Tidak tahu tempat di adakan testnya, akhirnya nyasar2 gak karuan di kota yang gak pernah aku kenal. Saat sampai pun sudah sangat terlambat.

Kelelahan, kepanasan, tubuh sudah kucel dan berantakan (tidak ada uang untuk naik travel, terpaksa bermotor ria dengan kakak saya). Interview sudah dimulai, peserta lain yang lolos sudah masuk ruang interview. Akhirnya aku dapat giliran terakhir untuk di interview. Dan sodara2ku tercinta, aku yang lugu ini memang over valued pada diri sendiri, aku menyadari sekali bahwa aku sangat payah, lemah, tidak punya pendirian dalam wawancara. Tak pandai berkomunikasi, tak pandai memimpin. bagaimana mungkin menjadi kandidat manager??

Namun harapan untuk lolos masih kupupuk dibenakku. Dan benar kata orang, terlalu banyak berharap akan menyakiti diri sendiri. Dua minggu kemudian aku menangis sejadi-jadinya saat mendapat sms dari teman yang dulu juga di interview, dia akan berangkat ke Jakarta besok. Aku tak lolos kali ini.